Kamis Sesuatu Seri Ke-LXII: KPU Kebumen Refleksikan Karakter Bangsa dan Demokrasi melalui Novel Manusia Indonesia
KEBUMEN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kebumen mengikuti Kajian Rutin Kamis Sesuatu yang diselenggarakan secara daring oleh KPU Provinsi Jawa Tengah di Ruang Rapat, Kamis (13/8). Memasuki seri ke-LXII, Kamis Sesuatu yang merupakan ruang belajar dan refleksi dalam serial advokasi hukum pemilu kali ini mengangkat novel “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis sebagai bahan diskusi.
Kegiatan tersebut diikuti oleh Anggota KPU Kabupaten/Kota, Kasubbag TPPH, serta staf Subbagian TPPH KPU Kabupaten/Kota se-Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan dibuka oleh Ketua KPU Provinsi Jawa Tengah, Handi Tri Ujiono. Hadir sebagai narasumber, Mukhamad Yusuf Hasyim, M.Pd.I, Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Kabupaten Temanggung dan dimoderatori oleh Dody Indra Sukma, S.Sos.
Dalam pemaparannya, Yusuf menjelaskan bahwa buku Manusia Indonesia lahir dari ceramah Mochtar Lubis yang disampaikan pada 1977 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Ceramah tersebut disampaikan dalam situasi sosial-politik yang penuh tekanan, ketika kebebasan pers terbatas, kritik sosial dibatasi, dan budaya ABS (Asal Bapak Senang) berkembang. Melalui pemikirannya, Mochtar Lubis tidak semata-mata bermaksud merendahkan bangsa Indonesia, melainkan mengajak masyarakat melakukan introspeksi secara jujur terhadap karakter bangsa.
Menurut Yusuf, Mochtar Lubis mengidentifikasi enam karakter manusia Indonesia yang menjadi bahan refleksi, yaitu hipokrit atau kesenjangan antara kata dan perbuatan, tidak bertanggung jawab, jiwa feodal, mudah percaya takhayul, berbakat artistik, serta memiliki karakter yang lemah. Lebih lanjut, kajian tersebut menekankan bahwa introspeksi terhadap karakter bangsa memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan demokrasi. Perbaikan karakter manusia menjadi fondasi penting dalam membangun integritas, tanggung jawab, kejujuran, dan kepercayaan publik.
Dalam konteks penyelenggaraan pemilu, nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat. Demokrasi yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh sistem dan institusi, tetapi juga oleh karakter manusia yang menjalankannya, baik penyelenggara, peserta pemilu, maupun pemilih. Integritas dan akuntabilitas menjadi dasar untuk menjaga kepercayaan publik, sementara transparansi dan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam memperkuat legitimasi proses demokrasi.
Yusuf juga menggarisbawahi pentingnya literasi politik dalam kehidupan demokrasi. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa fakta, serta tidak mudah terpengaruh oleh hoaks, propaganda, maupun informasi politik yang menyesatkan. Literasi politik yang baik akan membantu masyarakat mengambil keputusan secara lebih rasional dan bertanggung jawab.
Melalui kajian ini, KPU Kabupaten Kebumen diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan mengenai pemikiran Mochtar Lubis, tetapi juga dapat mengambil nilai reflektif dalam menjalankan tugas sebagai penyelenggara pemilu. Introspeksi, perbaikan karakter, penguatan integritas, serta komitmen terhadap tanggung jawab menjadi bagian penting dalam mewujudkan demokrasi yang semakin berkualitas.